Labels
- Alergi
- Artikel
- Dapur Sehat
- Diabetes Melitus
- Diet
- gaya hidup sehat
- Gazebo Cito
- Gejala Penyakit
- Ibu Hamil
- Info BPJS
- Info Sehat
- Inspirasi
- Kanker Darah
- Karir
- Keluarga
- kesehatan
- Kesehatan Anak
- Kesehatan Jiwa
- Kesehatan Pria
- Kesehatan Reproduksi
- Kesehatan Wanita
- konsultasi kesehatan
- life style
- News
- Nutrisi
- obat
- Obat dan Vitamin
- obat tradisional
- obattradisional
- olah raga
- Penyakit
- Penyakit Akibat Kerja
- Penyakit Infeksi dan Parasit
- Penyakit Kronis
- Penyakit Saraf
- Pria
- Promo Kesehatan
- Ragam
- Relationship
- resep masakan
- Rileks
- Sehat dan Bugar
- Teknologi
- Tes Darah
- Tips Sehat
- tips&trik
- Traveling
- Wanita
Tampilkan postingan dengan label Diabetes Melitus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diabetes Melitus. Tampilkan semua postingan
Rabu, 20 Januari 2016

Diabetes Makin Menyerang Kaum Muda!
Teh manis dan kudapan menjadi teman akrab sebagian kaum urban untuk untuk memulai aktivitas hari dan menemani waktu-waktu mengantuk di kantor. Tidak disadari, gaya hidup termasuk kebiasaan seperti itu membawa pada ancaman nyata, yaitu pandemi diabetes.
Berdasarkan data diabetes Atlas Update 2014 dari Federasi diabetes Internasional, penderita diabetes berusia 20-79 di Indonesia berjumlah lebih dari 9,1 juta dan hampir 176.000 meninggal karenanya.
Berdasarkan data tersebut, penderita diabetes di Indonesia kebanyakan berasal dari usia di bawah 60 tahun. Diperkirakan peningkatan signifikan terjadi pada 2035 mendatang penderita diabetes mencapai 14,1 juta dan dua pertiga di antaranya bermukim di perkotaan (Baca : 8 Macam Tes Kesehatan Wajib untuk Orang Kota).
Penyakit mahal
Faktor resiko penyebab diabetes memang ditengarai banyak hal, termasuk genetik. Namun, kebiasaan kaum urban mengabaikan pola hidupnya, seperti hobi menikmati camilan manis dan minuman bersoda, malas bergerak, stres, kurang istirahat, hingga jarang olahraga membuat penyakit ini lebih rentan menyerang banyak orang.
Di perkotaan, tak banyak orang sadar untuk menjaga gaya hidup agar terhindar dari diabetes. Padahal, penyakit ini termasuk penyakit kronis dan akan diderita seumur hidup sehingga biaya obat akan menjadi beban hidup selamanya.
Penelitian menunjukkan, sekitar 11 persen biaya kesehatan di dunia dihabiskan untuk mengatasi diabetes.
Mengatur gaya hidup baru
Penting bagi siapapun, termasuk yang berusia muda, mengetahui gejala awal diabetes. Beberapa gelaja itu di antaranya berat badan turun tanpa sebab, seringkali buang air kecil, sering haus, penglihatan semakin lemah, mudah lelah dan sering merasa lapar.
Indikasi itu semakin kuat saat seseorang membutuhkan waktu lama untuk sembuh ketika menderita luka. Bila memiliki gejala seperti itu, pemeriksaan lebih lanjut sangat dianjurkan. Komplikasi hingga kegagalan organ tubuh bisa timbul bila kondisi tersebut dibiarkan dan terlanjur memburuk.
Sangat penting bagi siapapun, termasuk yang berusia muda, mengetahui gejala awal diabetes.
Agar terhindar dari gejala tersebut, kaum urban sebaiknya mulai memberlakukan gaya hidup sehat. Hindari stres, rutin berolahraga, biasakan konsumsi makanan sehat dan cukup istirahat adalah beberapa caranya.
Tak kalah penting adalah memantau kadar gula secara berkala. Bisa dilakukan sendiri dengan alat-alat tertentu yang dijual bebas atau melakukan pemeriksaan di laboratorium klinik (Baca : Wajib Cek Gula Darah Rutin Bila Anda Mengalami 3 Ciri-ciri Ini!) .
Bila hasil tes menunjukkan kadar glukosa kurang dari 100 mg/dl berarti Anda masih dalam kategori normal. Namun, bila angkanya berada dalam rentang 100 mg/dl hingga 125 mg/dl, orang tersebut masuk kategori pradiabetes. Hasil tes melebihi 126 mg/dl, menunjukkan kemungkinan seseorang positif menderita diabetes.
Dengan melakukan gaya hidup sehat dan selalu rutin cek gula darah berkala, siapapun bisa waspada akan risiko diabetes dan Anda bisa menghindarinya.
Minggu, 03 Januari 2016

5 Tanda Anda Telah Mengalami Pradiabetes
Penyakit diabetes melitus memang kerap tanpa gejala dan memiliki perjalanan penyakit yang lambat sehingga banyak orang yang mengalami pradiabetes tidak menyadari kondisinya tubuhnya sudah terkena.
Faktor penyebab diabetes disebabkan berbagai faktor, termasuk genetik dan gaya hidup tidak sehat. Maka dari itu, perlu perhatian khusus untuk menandakan pradiabetes agar Anda terhindar dari penyakit tersebut. Berikut lima tanda Anda telah mengalami pradiabetes seperti dikutip dari Men's Health .
1. Sering buang air kecil di malam hari
Terlalu sering buang air kecil di malam hari menjadi salah satu tanda bahwa diabetes telah berkembang. Hal ini dikarenakan kadar gula darah di tubuh meningkat.
Jika sudah lebih dari 3 kali setiap malam Anda buang air kecik maka perlu pemeriksaan lebih lanjut. Selain itu juga, bagi laki-laki kondisi ini bisa juga merupakan gejala dari masalah prostat. Maka dari itu, cara terbaik adalah segera memeriksakan kondisi tersebut ke dokter untuk melakukan pencegahan.
2. Kulit terlihat kotor
Kulit di bagian belakang leher biasanya memiliki bercak-cak hitam dan jika digosok tidak menghilang. Mungkin itu tanda-tanda pradiabetes. Kondisi itu tersebut disebabkan oleh resistensi insulin yang menyebabkan acanthosis nigricans yang mungkin muncul saat pradiabetes.
Tidak hanya di belakang leher saja, bercak hitam tersebut bisa saja muncul di siku atau lutut. Namun, setelah kadar glukosa bisa dikontrol, bercak tersebut biasanya menghilang.
3. Kesulitan untuk membaca
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang akan menyebabkan kerusakan pada pembuluh dara kecil di retina atau yang biasa disebut dengan retinopati diabetik.
Pada satu dekade lalu, para dokter hanya berpikir kondisi tersebut baru bisa berkembang jika seseorang mengalami diabetes tipe 2. Nyatanya, retinopati diabetik bisa berkembang lebih cepat lagi.
Hampir delapan persen orang yang mengalami pradiabetes memiliki retinopati diabetik. Maka dari itu, perlu menjaga gula darah Anda agar tetap terkontrol sekaligus menjaga kondisi tersebut agar tidak semakin berkembang.
4. Berat badan turun drastis
Banyak orang yang mengalami penurunan berat badan secara drastis, akan merasa senang dan tetap mengonsumsi minumam bersoda. Padahal, penurunan berat badan yang tidak jelas bisa jadi tanda-tanda diabetes.
Selain itu, hal tersebut juga menjadi tanda bahwa tubuh tidak memanfaatkan kalori secara efektif dan nutrisi hanya keluar melalui air seni.
5. Tekanan darah bertambah tinggi
Apabila tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg, maka ada kemungkinan lebih tinggi untuk terkena hipertensi. Selain itu juga, memiliki tekanan darah yang tinggi dapat mengembangkan diabetes.
Apabila dibiarkan saja, kedua hal ini mampu merusak ginjal dari waktu ke waktu. Maka dari itu, apabila tekanan darah cukup tinggi cobalah untuk memeriksakannya ke dokter.(health.detik.com)
Minggu, 08 November 2015

Wajib Cek Gula Darah Rutin Bila Anda Mengalami 3 Ciri-ciri Ini!
Pada 2030 sesuai perkiraan dari International diabetes Federation akan ada 11,8 juta penduduk Indonesia yang menderita diabetes. Angka itu naik hampir dua kali lipat dari angka 7,6 juta jiwa yang tercatat pada 2013 lalu. Diabetes melitus atau kencing manis merupakan kelainan sistem insulin karena berlebihnya kadar gula di dalam darah. Orang seringkali mengabaikan faktor risiko ini dalam dirinya (Baca : Lakukan Cek Gula Darah Berkala Bila Memiliki Faktor Risiko Ini!).
Berikut tiga ciri yang sering dianggap tak penting tapi sangat memicu diabetes dan Anda perlu segera cek gula darah :
1. Sering buang air kecil
Salah satu ciri gejala diabetes yang perlu diperhatikan adalah aktivitas poliuri atau sering buang air kecil dengan volume yang banyak, apalagi di malam hari. Hal tersebut disebabkan oleh kadar gula yang melebihi nilai ambang ginjal atau lebih dari 180 mg/dl, kemudian gula akan keluar bersama urine.
Untuk menjaga agar urine yang mengandung gula keluar, tubuh akan menarik air sebanyak mungkin ke dalam urine sehingga volume urine keluar banyak. Aktivitas tersebut terbilang akan sangat sering terjadi, bahkan bisa mengganggu tidur di malam hari.
2. Cepat lapar
Poliphagia adalah kondisi seseorang mengalami rasa lapar berlebihan. Penyebabnya adalah kurangnya insulin untuk memasukkan gula ke sel membuat otot dan organ melemah sehingga tubuh kehabisan energi.
Saat bersamaan, otak akan mengira kekurangan energi tersebut karena kurang makan sehingga tubuh berusaha meningkatkan asupan makanan dengan mengirimkan sinyal lapar. Sementara itu, kadar gula darah yang tinggi sesudah makan dapat memicu timbulnya komplikasi makrovaskuler (gangguan jantung dan pembuluh darah). Banyak penyandang diabetes meninggal karena komplikasi jantung dan pembuluh darah.
3. Sering merasa haus
Satu dari ciri utama diabetes adalah polidipsi atau sering kali merasa haus. Perasaan dehidrasi ini membuat orang ingin minum air sebanyak-banyaknya yang kemudian berdampak pada banyaknya air seni yang keluar.
Selain itu, sering merasa haus membuat orang ingin selalu minum yang dingin, manis, segar, dan banyak. Padahal, minuman manis akan sangat merugikan karena membuat kadar gula semakin tinggi.
Di perkotaan, tak banyak orang sadar untuk menjaga gaya hidup agar terhindar dari diabetes. Pada dasarnya, bila diabetes bisa didiagnosis sejak dini, kesempatan mengendalikan gula darah akan lebih baik sehingga komplikasi dapat dihindari. Untuk mencegahnya, Anda perlu mendeteksi kadar gula darah secara berkala. Hal itu sangat penting agar penanganan diabetes dapat dilakukan secara cepat dan tepat.(kompas.com)
Senin, 12 Oktober 2015

7 Komplikasi Menakutkan Akibat Diabetes
Diabetes melitus bukan penyakit kronis yang bisa dianggap remeh. Menjalani berbagai pengobatan untuk mengatasi diabetes harus dijalani dengan konsistensi tinggi, seperti rutin minum obat, cek kadar gula darah dan menyuntikan insulin ke dalam tubuh. Langkah ini akan mengontrol penyakit diabetes dan merupakan cara terbaik untuk mencegah berbagai komplikasi yang diakibatkan diabetes.
Namun jika Anda tidak melakukannya, komplikasi diabetes akan muncul dalam 5 tahun dan sebagian besar penderita akan mengalami berbagai macam penyakit dalam 10 – 15 tahun kedepan. Berikut ini tujuh komplikasi yang akan terjadi bila Anda tidak mengontrol diabetes dengan benar :
1. Meningkatnya kolestrol dan tekanan darah
Penderita diabetes tipe 1, tubuh berhenti memproduksi insulin yaitu hormon yang mengatur gula darah. Sedangkan, pada penderita diabetes tipe 2, tubuh tidak dapat memanfaatkan insulin dengan sempurna. Hal ini menyebabkan kadar HDL (kolestrol baik) menjadi menurun dan lemak berbahaya (trigliserida) akan meningkat.
Selain itu resistensi insulin juga menyebabkan sempitnya arteri yang akan meningkatkan tekanan darah. Komplikasinya, sekitar 70% penderita diabetes juga mengalami hipertensi, stroke, sakit jantung dan masalah ingatan. Terjadinya komplikasi akan semakin cepat, jika Anda tidak mengontrol tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi, baik itu dengan makanan sehat dan olahraga atau dengan mengonsumsi obat.
2. Penglihatan kabur
Karena tingginya glukosa pada darah, dapat menyebabkan retinopati atau rusaknya salah satu jaringan pada mata yang menyebabkan mata lebih sensitif pada cahaya, sehingga merusak pembuluh darah pada mata. Prosesnya dapat terjadi pada tujuh tahun awal sebelum diagnosa. Awalnya memang tak ada gejala khusus, tapi semakin lama, penglihatan akan lebih gelap.
Sebuah penelitian mengungkap bahwa penderita diabetes tipe 2, ketika kadar glukosa darah meningkat 1% tiap waktu akan berisiko pada masalah mata sepertiganya. Dalam kurun waktu 20 tahun, 80% penderita diabetes mengalami retinopati dan sekitar 10 ribu mengalami kebutaan.
3. Gagal ginjal
Pada kasus komplikasi gagal ginjal, gula darah tinggi akan mengental dan akan merusak nefron, struktur kecil yang menyaring darah dalam ginjal. Inilah yang akan mengakibatkan protein ikut keluar bersama urin. Ini merupakan tanda-tanda gagal ginjal pada penderita diabetes tipe 2.
Jika Anda tidak melakukan pengobatan rutin pada diabetes, akan terjadi kerusakan pada ginjal dalam 10 tahun dan sekitar 40% akan gagal ginjal.
4. Gangguan pada saraf
Sekitar 7,5% dari penderita diabetes memiliki neuropati atau kerusakan saraf yang disebabkan oleh tingginya glukosa darah, ketika mereka didiagnosa diabetes. Tidak ada gejala apapun di awal, Anda mungkin hanya akan merasa sedikit kesemutan di bagian tangan atau kaki, kata Gabbay. Tapi, semakin lama neuropati akan menyebabkan rasa sakit, menjadi lemah, hingga adanya masalah pada saluran pencernaan.
5. Kehilangan kaki
Karena adanya kerusakan saraf akibat komplikasi diabetes pada otak dan tubuh bagian bawah, otot kaki menjadi lemah dan bentuk kaki akan berubah. Selain itu, borok dan mati rasa juga akan muncul karena adanya benturan-benturan kecil pada kaki. Sirkulasi darah menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga menyebabkan pembuluh darah rusak dan memperlambat penyembuhan. Akibatnya, infeksi akan menyebar ke tulang dan penderita diabetes harus menjalani amputasi.
6. Serangan jantung
Selain meningkatnya tekanan darah dan kolesterol, diabetes juga dapat merusak pembuluh darah, arteri dan otot jantung. Penderita diabetes berisiko 2 kali lipatnya untuk terkena serangan jantung dan 4 kali lipat terkena stroke. Serangan jantung merupakan pembunuh nomor satu. Selain fatal, bisa menyebabkan kelumpuhan dan cacat.
7. Kesempatan hidup lebih kecil
Semua penyakit di atas dapat menyebabkan kematian yang lebih cepat. Sebuah riset terbaru menunjukkan, wanita dengan diabetes tipe 1 memiliki kemungkinan hidup 13 tahun lebih sedikit ketimbang orang yang tidak pengidap penyakit tersebut. diabetes menduduki peringkat ke-7 sebagai penyakit yang menyebabkan kematian.
Meski diabetes tidak bisa disembuhkan, mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, dan minum obat merupakan cara terbaik mencegah komplikasi menakutkan akibat diabetes menjadi lebih buruk.(prevention.com)
Selasa, 25 Agustus 2015

Mengenal Diabetes Melitus Gestasional pada Ibu Hamil
Diabetes melitus gestasional merupakan salah satu sub-tipe dari diabetes melitus yaitu gangguan toleransi glukosa yang dipicu oleh kehamilan, biasanya menghilang dengan sendirinya setelah melahirkan.
Pada wanita hamil, khususnya pada usia kandungan di atas 6 bulan, tingkat glukosa dalam darah akan meningkat melebihi batas normal. Sebagian orang bahkan beranggapan bahwa situasi ini alamiah dialami oleh wanita hamil.
5 Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Kehamilan
Walaupun level glukosa akan kembali normal pasca-melahirkan, diabetes gestasional harus ditangani dengan baik. Jika tidak, maka si ibu akan beresiko mengembangkan diabetes tipe 2 setelah beberapa tahun pasca-kehamilan tersebut.
Penyebab Diabetes Melitus Gestasional
Diabetes tipe ini disebabkan karena insulin tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Hormon kehamilan dapat menghalangi insulin untuk menjalankan fungsinya. Akibatnya level gula darah/glukosa dalam tubuh menjadi tinggi.
8 Pemeriksaan Laboratorium yang Penting Selama Kehamilan
Jika Anda memiliki salah satu faktor risiko berikut ini, saat kehamilan lakukan pemeriksaan kadar gula darah secara berkala
Biasanya diabetes gestasional tidak menunjukkan gejala sama sekali. Jika memang ada, maka gejala tersebut sangat ringan dan sering dihubungkan dengan situasi alamiah selama kehamilan. Gejala diabetes gestasional yang mungkin timbul adalah:
Meskipun diabetes melitus gestasional bersifat sementara, bila tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan kesehatan janin maupun sang ibu. Risiko yang dapat dialami oleh bayi meliputi makrosomia (berat bayi yang tinggi atau diatas normal), penyakit jantung bawaan dan kelainan sistem saraf pusat, dan cacat otot rangka.
Penyebab Janin Meninggal dalam Kandungan
Beberapa Jenis Penyakit Hati yang Bisa Dialami Bayi
Peningkatan hormon insulin janin dapat menghambat produksi surfaktan janin dan mengakibatkan sindrom gangguan pernapasan. Beberapa kasus yang parah, kematian janin sebelum kelahiran dapat terjadi, paling umum terjadi sebagai akibat dari perfusi plasenta yang buruk karena kerusakan vaskular.
Semua ibu hamil dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan untuk mendeteksi diabetes melitus gestasional, karena umumnya diabetes gestasional tidak menunjukkan gejala sama sekali, sehingga dibutuhkan proses tes dan screening. Semoga bermanfaat.
Pada wanita hamil, khususnya pada usia kandungan di atas 6 bulan, tingkat glukosa dalam darah akan meningkat melebihi batas normal. Sebagian orang bahkan beranggapan bahwa situasi ini alamiah dialami oleh wanita hamil.
5 Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Kehamilan
Walaupun level glukosa akan kembali normal pasca-melahirkan, diabetes gestasional harus ditangani dengan baik. Jika tidak, maka si ibu akan beresiko mengembangkan diabetes tipe 2 setelah beberapa tahun pasca-kehamilan tersebut.
Penyebab Diabetes Melitus Gestasional
Diabetes tipe ini disebabkan karena insulin tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Hormon kehamilan dapat menghalangi insulin untuk menjalankan fungsinya. Akibatnya level gula darah/glukosa dalam tubuh menjadi tinggi.
8 Pemeriksaan Laboratorium yang Penting Selama Kehamilan
Jika Anda memiliki salah satu faktor risiko berikut ini, saat kehamilan lakukan pemeriksaan kadar gula darah secara berkala
- Memiliki sejarah keluarga yang mengidap diabetes
- Berusia di atas 25 tahun saat hamil
- Memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi)
- Memiliki berat badan tinggi sebelum hamil
- Pernah melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4000 g (makrosomia) sebelumnya
- Pola makan yang tidak sehat selama kehamilan
- Stres, hormon-hormon stres ditubuh akan meningkat hal ini juga akan memicu naiknya kadar gula di dalam darah.
- Bahan kimia dan obat-obatan
- Mengkonsumsi karbohidrat berlebihan
- Kerusakan pada sel pankreas
- Infeksi mikroorganisme dan virus pada pangkreas juga dapat menyebabkan radang pankreas yang menyebabkan fungsi pankreas turun sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon untuk proses metabolisme tubuh termasuk insulin.
- Penyakit seperti kolesterol tinggi dan displidemia dapat meningkatkan risiko terkena diabetes militus.
Biasanya diabetes gestasional tidak menunjukkan gejala sama sekali. Jika memang ada, maka gejala tersebut sangat ringan dan sering dihubungkan dengan situasi alamiah selama kehamilan. Gejala diabetes gestasional yang mungkin timbul adalah:
- Sering buang air kecil (poliuria)
- Polidipsia (merasa kehausan dan banyak minum)
- Pusing, mual hingga muntah
- Lemah badan, kesemutan, gatal, pandangan kabur, dan pruritus vulva
- Pandangan kabur
- Mudah lelah
- Sering mengalami infeksi pada daerah luka, kulit dan juga vagina
- Berat badan menurun, walaupun nafsu makan meningkat (polifagia)
Meskipun diabetes melitus gestasional bersifat sementara, bila tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan kesehatan janin maupun sang ibu. Risiko yang dapat dialami oleh bayi meliputi makrosomia (berat bayi yang tinggi atau diatas normal), penyakit jantung bawaan dan kelainan sistem saraf pusat, dan cacat otot rangka.
Penyebab Janin Meninggal dalam Kandungan
Beberapa Jenis Penyakit Hati yang Bisa Dialami Bayi
Peningkatan hormon insulin janin dapat menghambat produksi surfaktan janin dan mengakibatkan sindrom gangguan pernapasan. Beberapa kasus yang parah, kematian janin sebelum kelahiran dapat terjadi, paling umum terjadi sebagai akibat dari perfusi plasenta yang buruk karena kerusakan vaskular.
Semua ibu hamil dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan untuk mendeteksi diabetes melitus gestasional, karena umumnya diabetes gestasional tidak menunjukkan gejala sama sekali, sehingga dibutuhkan proses tes dan screening. Semoga bermanfaat.
Rabu, 22 Oktober 2014

Gejala Diabetes Melitus yang Perlu Anda Waspadai
Saat ini jumlah penderita diabetes melitus tipe 2 tiap tahunnya mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Gaya hidup, yakni pola makan, kurang olahraga, kegemukan, dan pola tidur sebagai penyebab utama penyakit ini.
Memang penyakit ini belum bisa disembuhkan, namun diabetes tipe 2 adalah penyakit yang perkembangannya berjalan lambat dibanding penyakit kronik lainnya. Perjalanan penyakit ini bisa terjadi selama berbulan-bulan, bahkan tahunan. Gejalanya pun muncul secara bertahap, hingga kadang sulit dideteksi.
Untuk menambah pengetahuan mengenai diabetes melitus, berikut ini gejala diabetes melitus yang perlu Anda waspadai
1. Cepat haus
Seringkali gejala awal diabetes adalah mengalami polidipsia yaitu kondisi dimana seseorang merasakan haus yang berlebihan. terkadang seseorang akan merasa kering di daerah dalam mulut. Waspadai jika Anda masih tetap haus bahkan setelah banyak minum. Gampang haus terjadi karena kadar gula berlebih dalam darah menyerap air terus menerus dari jaringan sehingga membuatnya dehidrasi.
2. Sering buang air kecil
Gejala diabetes melitus lainnya yaitu sering buang air kecil. Lebih sering buang air dari biasanya dan volume air seni yang abnormal dinamakan poliuria. Bagi orang dewasa normalnya mengekskresikan satu sampai dua liter air seni setiap harinya. Jangan anggap ringan kondisi selalu ingin buang air kecil, terutama di malam hari. Dehidrasi parah akibat sering kencing dapat memengaruhi fungsi ginjal.
3. Mudah lapar
Kurangnya insulin untuk memasukkan gula ke sel membuat otot dan organ melemah dan tubuh kehabisan energi. Otak akan mengira kurang energi itu karena kurang makan sehingga tubuh berusaha meningkatkan asupan makanan dengan mengirimkan sinyal lapar. Kondisi ini juga disebut poliphagia yaitu kondisi dimana seseorang mengalami rasa lapar yang berlebih dan merupakan satu dari tiga gejala utama diabetes.
4. Berat badan turun drastis
Penderita diabetes dapat mengalami penurunan berat badan, bahkan sangat drastis meski nafsu makan meningkat. Hal ini dikarenakan kemampuan metabolisme glukosa terganggu, tubuh akan menggunakan apapun lain sebagai sumber energi, misalnya otot dan lemak sehingga orang akan tampak kurus.
5. Rasa lelah dan lemah yang tidak biasa
Rasa lelah yang tidak biasa juga bisa merupakan gejala diabetes melitus. Kekurangan gula akan menyebabkan tubuh menjadi tidak berdaya karena kekurangan energi. Kerja tubuh akan melambat dan membakar otot atau lemak selama beraktivitas.
(Baca : Ini Tandanya Tubuh Anda Kurang Konsumsi Lemak)
6. Mata menjadi kabur
Gula darah yang terlalu tinggi akan mengambil cairan dari tubuh termasuk cairan dalam lensa mata. Bila tidak ditangani dalam jangka waktu yang lama akan memengaruhi kemampuan berkonsentrasi dan berakhir pada kehilangan penglihatan total.
(Baca : Sebelum Terlambat Kenali Tanda Penyakit Mata AMD)
7. Pemulihan luka yang lama atau sering infeksi
Diabetes tipe 2 memengaruhi kemampuan tubuh untuk menyembuhkan luka atau melawan infeksi. Biasanya luka pada tubuh butuh waktu berminggu-minggu untuk pulih, hal ini berpotensi terkena infeksi dan membutuhkan pengobatan medis. Bila Anda sering mengalami ini, waspadalah akan penyakit di baliknya, termasuk diabetes.
8. Warna kulit menjadi gelap
Biasanya timbul bercak dan lipatan yang terdapat di daerah ketiak dan sekitar leher. Kondisi ini juga menandakan gangguan insulin. Penderita diabetes tipe 2 memiliki bercak gelap, kulit lembek dan lipatan di badannya. Kondisi ini bernama acanthosis nigricans.
Dengan mewaspadai gejala diabetes melitus lebih awal sebaiknya mulai sekarang Anda merubah gaya hidup yang lebih sehat agar terhindar dari penyakit diabetes melitus Selain itu lakukan pemeriksaan gula darah secara rutin agar Anda bisa mengontrol kesehatan Anda. Semoga tetap sehat. (www.healthworks.my.com)
Memang penyakit ini belum bisa disembuhkan, namun diabetes tipe 2 adalah penyakit yang perkembangannya berjalan lambat dibanding penyakit kronik lainnya. Perjalanan penyakit ini bisa terjadi selama berbulan-bulan, bahkan tahunan. Gejalanya pun muncul secara bertahap, hingga kadang sulit dideteksi.
Untuk menambah pengetahuan mengenai diabetes melitus, berikut ini gejala diabetes melitus yang perlu Anda waspadai
1. Cepat haus
Seringkali gejala awal diabetes adalah mengalami polidipsia yaitu kondisi dimana seseorang merasakan haus yang berlebihan. terkadang seseorang akan merasa kering di daerah dalam mulut. Waspadai jika Anda masih tetap haus bahkan setelah banyak minum. Gampang haus terjadi karena kadar gula berlebih dalam darah menyerap air terus menerus dari jaringan sehingga membuatnya dehidrasi.
2. Sering buang air kecil
Gejala diabetes melitus lainnya yaitu sering buang air kecil. Lebih sering buang air dari biasanya dan volume air seni yang abnormal dinamakan poliuria. Bagi orang dewasa normalnya mengekskresikan satu sampai dua liter air seni setiap harinya. Jangan anggap ringan kondisi selalu ingin buang air kecil, terutama di malam hari. Dehidrasi parah akibat sering kencing dapat memengaruhi fungsi ginjal.
3. Mudah lapar
Kurangnya insulin untuk memasukkan gula ke sel membuat otot dan organ melemah dan tubuh kehabisan energi. Otak akan mengira kurang energi itu karena kurang makan sehingga tubuh berusaha meningkatkan asupan makanan dengan mengirimkan sinyal lapar. Kondisi ini juga disebut poliphagia yaitu kondisi dimana seseorang mengalami rasa lapar yang berlebih dan merupakan satu dari tiga gejala utama diabetes.
4. Berat badan turun drastis
Penderita diabetes dapat mengalami penurunan berat badan, bahkan sangat drastis meski nafsu makan meningkat. Hal ini dikarenakan kemampuan metabolisme glukosa terganggu, tubuh akan menggunakan apapun lain sebagai sumber energi, misalnya otot dan lemak sehingga orang akan tampak kurus.
5. Rasa lelah dan lemah yang tidak biasa
Rasa lelah yang tidak biasa juga bisa merupakan gejala diabetes melitus. Kekurangan gula akan menyebabkan tubuh menjadi tidak berdaya karena kekurangan energi. Kerja tubuh akan melambat dan membakar otot atau lemak selama beraktivitas.
(Baca : Ini Tandanya Tubuh Anda Kurang Konsumsi Lemak)
6. Mata menjadi kabur
Gula darah yang terlalu tinggi akan mengambil cairan dari tubuh termasuk cairan dalam lensa mata. Bila tidak ditangani dalam jangka waktu yang lama akan memengaruhi kemampuan berkonsentrasi dan berakhir pada kehilangan penglihatan total.
(Baca : Sebelum Terlambat Kenali Tanda Penyakit Mata AMD)
7. Pemulihan luka yang lama atau sering infeksi
Diabetes tipe 2 memengaruhi kemampuan tubuh untuk menyembuhkan luka atau melawan infeksi. Biasanya luka pada tubuh butuh waktu berminggu-minggu untuk pulih, hal ini berpotensi terkena infeksi dan membutuhkan pengobatan medis. Bila Anda sering mengalami ini, waspadalah akan penyakit di baliknya, termasuk diabetes.
8. Warna kulit menjadi gelap
Biasanya timbul bercak dan lipatan yang terdapat di daerah ketiak dan sekitar leher. Kondisi ini juga menandakan gangguan insulin. Penderita diabetes tipe 2 memiliki bercak gelap, kulit lembek dan lipatan di badannya. Kondisi ini bernama acanthosis nigricans.
Dengan mewaspadai gejala diabetes melitus lebih awal sebaiknya mulai sekarang Anda merubah gaya hidup yang lebih sehat agar terhindar dari penyakit diabetes melitus Selain itu lakukan pemeriksaan gula darah secara rutin agar Anda bisa mengontrol kesehatan Anda. Semoga tetap sehat. (www.healthworks.my.com)
Jumat, 07 Februari 2014

7 Alasan Kenapa Anda Harus Kurangi Konsumsi Gula
Dulu gula hanya digunakan untuk membuat kue ulang tahun atau perayaan tertentu. Namun kini gula tambahan terkandung dalam hampir dalam semua jenis makanan. Itulah mengapa Anda harus segera mengurangi asupan gula Anda dari sekarang.
Berikut 7 alasan kenapa Anda harus mengurangi konsumsi gula seperti halnya dikutip dari ABC News..
Berikut 7 alasan kenapa Anda harus mengurangi konsumsi gula seperti halnya dikutip dari ABC News..
1. Overdosis
Tanpa disadari hampir setiap orang mengonsumsi kadar gula dengan dosis yang berlebihan. Di Amerika saja tercatat masyarakatnya mengonsumsi gula tambahan hingga 59 kg per tahun atau sama dengan 22 sendok teh per hari.
Untuk itu American Heart Association menyarankan agar para wanita hanya boleh mengonsumsi gula tambahan maksimal 6 sendok teh, sedangkan pria hanya 9 sendok teh saja.
2. Memperdaya otak
Alasan kenapa anda harus kurangi konsumsi gula lainnya yaitu dapat memperdaya otak. "Gula tambahan yang dikonsumsi terlalu banyak mengirimkan sinyal lapar yang palsu ke otak, dan semacam menipu otak agar berpikir bahwa Anda belum makan," terang pakar endokrinologi Robert Lustig, MD, penulis buku Fat Chance: Beating the Odds Against Sugar, Processed Food, Obesity and Disease.
3. Mempercepat penuaan
Menurut Dr Lustig, fruktosa atau salah satu molekul yang terkandung dalam gula tambahan, berpotensi tujuh kali lebih besar daripada glukosa untuk membentuk radikal oksigen dan menyebabkan kerusakan dan kematian sel. Padahal kondisi ini berkontribusi terhadap munculnya penyakit kronis seperti diabetes tipe 2 dan gangguan jantung.
Dalam waktu bersamaan, hal ini juga dapat mempercepat proses penuaan. Jangan kaget, gula tambahan yang sering menyebabkan hal ini banyak terkandung dalam saus tomat botolan
4. Mengubah warna jaringan tubuh
Stres oksidatif dapat menyebabkan jaringan tubuh yang seharusnya berwarna merah menjadi cokelat. Ini disebut dengan reaksi Maillard. Dan konsumsi gula tambahan secara berlebihan dapat mempercepat proses pencoklatan ini.
Penyebabnya tak lain konsumsi gula dari makanan olahan. Dan Dr Lustig memastikan diperkirakan dari sekitar 600.000 produk makanan komersial, 80 persen di antaranya mengandung gula tambahan.
5. Menggemukkan liver
Bila mitokondria yang ada dalam liver atau hati kelebihan gula maka mereka tak punya pilihan lain untuk mengubah kelebihan gula itu menjadi lemak hati. Padahal ini dapat memicu penyakit lemak hati dan memaksa pankreas untuk memproduksi insulin ekstra sehingga organ hati yang sebenarnya sudah kewalahan itu dipaksa bekerja lagi. Ini salah satu alasan kenapa anda harus kurangi konsumsi gula.
6. Menyebabkan ketagihan
Makan terlalu banyak fruktosa dari gula tambahan merusak sistem pengiriman sinyal dopamine (neurotransmitter yang bertugas memperlihatkan perasaan senang dan puas setelah mengonsumsi atau melakukan sesuatu) yang ada di penjuru tubuh, sehingga tubuh butuh lebih banyak gula agar bisa meredam sinyal tersebut.
7. Merusak pembuluh darah
Dari waktu ke waktu, kebiasaan buruk mengonsumsi terlalu banyak gula tambahan akan mulai merusak endotelium atau selubung sel khusus yang melapisi permukaan bagian dalam pembuluh darah. Glukosa menumpuk di atas sel-sel tersebut, membuatnya jadi tak begitu sensitif sehingga mempengaruhi oksigen yang dikirim ke organ-organ lainnya.
Konsumsi gula tetap dibutuhkan oleh tubuh, tapi jangan berlebihan. Semoga 7 alasan kenapa anda harus kurangi konsumsi gula membuat anda lebih sehat.
Konsumsi gula tetap dibutuhkan oleh tubuh, tapi jangan berlebihan. Semoga 7 alasan kenapa anda harus kurangi konsumsi gula membuat anda lebih sehat.
health.detik.com
Jumat, 24 Januari 2014

Google Uji Prototipe Lensa Kontak Pelacak Diabetes
Google Inc menyatakan bahwa perusahaan itu sedang menguji coba metode baru untuk para pengidap diabetes mengawasi tingkat gula darah mereka dengan mengenakan lensa kontak yang dilengkapi dengan kepingan dan antena kecil.
Dalam blognya, perusahaan itu menulis bahwa chip kecil dan sensor, dan antena yang lebih kecil dari sehelai rambut manusia, bisa ditanamkan kepada lensa kontak. Perangkat yang ditempelkan ke mata itu bisa memonitor tingkat gula darah sesering sekali setiap detik.
Google mengatakan para ilmuwannya telah menyelesaikan berbagai studi klinis dan kini sedang menguji prototipe dengan lampu LED kecil yang menyala jika tingkat gula darah turun. Para peneliti juga mengembangkan gagasan aplikasi baru yang bisa membuat informasi itu tersedia secara online bagi pasien dan dokter mereka.
Google mengatakan teknologi itu masih sedang diuji tetapi meyakini suatu hari, perangkat itu bisa membantu menangani diabetes secara lebih baik dan lebih mudah.
Mesin pencarian Internet terbesar, Google sedang mengembangkan beragam teknologi baru di luar bisnis utamanya, termasuk mobil yang berjalan sendiri tanpa supir dan balon yang memancarkan Internet nirkabel ke daerah-daerah terpencil di dunia.
Google juga telah lebih fokus pada isu-isu kesehatan, dengan meluncurkan perusahaan terpisah pada September yang didedikasikan untuk menanggulangi penyakit-penyakit terkait penuaan.(Voaindonesia)

Setiap 6 Detik, 1 Orang Meninggal Akibat Diabetes
Pencegahan diabetes di dunia tak kunjung menemukan titik terang. Justru, prevalensi masyarakat yang terkena diabetes serta angka kematian akibat diabetes mengalami kenaikan.
Saat ini, di dunia, ada 382 juta penderita diabetes dengan angka kematian mencapai 5,1 juta orang. Artinya, setiap enam detik, ada satu penderita diabetes yang meninggal. Faktanya, kasus diabetes di dunia memang belum kunjung membaik.
Tahun 2013, posisi Indonesia ada di nomor tujuh dengan jumlah penderita sebanyak 8,5 juta orang. Di posisi teratas, ada Cina (98,4 juta jiwa), India (65,1 juta jiwa), dan Amerika (24,4 juta jiwa). Ada tren menarik tentang peningkatan jumlah penderita diabetes di negara berkembang seperti Indonesia. Pola hidup ternyata mempengaruhi berdampak banyaknya jumlah penderita baru, khususnya diabetes tipe 2.
Sayang, ternyata akses layanan kesehatan bagi pengidap diabetes di Indonesia masih minim. Tercatat, dari total jumlah pengidap yang tercatat, baru 46 persen yang sudah didiagnosis, sedangkan 44 persen menerima perawatan, dan kurang dari 1 persen mendapatkan terapi yang sesuai. Masalah serupa tak hanya milik Indonesia, tapi juga terjadi pada penderita di negara berkembang.
Ada empat hambatan utama dalam menangani diabetes. Pertama, rendahanya pengetahuan pencegahan dan pengobatan diabetes. Kedua, ketidakmerataan penyediaan dan kebutuhan kesehatan. Ketiga, terbatasnya sumber daya sistem kesehatan publik. Keempat, terbatasnya jumlah pasien yang mendapat pengobatan diabetes.Oleh karena itu masyarakat harus paham gejalanya. Di Indonesia persoalannya adalah diagnosa, masih banyak potensi diabetes tapi tidak sadar bahwa mereka mengidapnya.
Rabu, 08 Januari 2014

Ada Penyakit Baru Perpaduan Antara Diabetes dan Bulimia
Sekarang yang namanya penyakit ada bermacam-macam jenisnya, mulai penyakit mental hingga penyakit fisik. Kini ada lagi penyakit baru yang merupakan perpaduan keduanya, yaitu Diabulimia. Penderitanya mengalami diabetes, tapi anehnya tidak gemuk, melainkan makin kurus.
Secara resmi, kondisi ini sebenarnya disebut Gangguan Makan Diabetes Melitus (DM) tipe 1 dan paling sering terjadi pada wanita muda berusia 15 - 30 tahun. Penderita DM tipe 1 harusnya secara rutin melakukan suntikan insulin untuk menormalkan kadar gula darahnya.
Tapi pada diabulimia, penderita DM tipe 1 sengaja tidak melakukan suntik insulin dengan tujuan menurunkan berat badan. Tubuh pengidap DM tipe 1 memang tidak memproduksi insulin sama sekali dan tidak memiliki kemampuan untuk mengatur jumlah gula dalam darahnya.
Pemangkasan insulin artinya mengurangi asupan makanan yang digunakan oleh tubuh. Metode ini memang berhasil menurunkan berat badan pengidap DM tipe 1.
Sayangnya, metode ini memiliki dampak yang gawat, yaitu menyebabkan ketoasidosis diabetes yang dapat memicu kebutaan, kerusakan ginjal, bahkan kematian. Hal yang ringan mulai dari mati rasa permanen di kedua kakinya hingga gangguan pencernaan.
Para peneliti menemukan bahwa wanita muda pengidap DM tipe 1 lebih berisiko mengidap gangguan makan 2 kali lipat daripada wanita tanpa diabetes. Sayangnya, pengobatan untuk mengatasi diabulimia terhitung sulit. Menurut Medical Daily, belum ada program yang dapat mengobati pasien dengan diagnosis ganda seperti ini. Jika diabulimia dikategorikan sebagai penyakit mental, mungkin para penderita bisa mendapat pengobatan lebih lanjut.
Langganan:
Komentar (Atom)