Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Jiwa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Januari 2015

Waspadai Tanda-tanda Orang yang Ingin Bunuh Diri

tanda-tanda-orang-ingin-bunuh-diri
Keinginan bunuh diri dari seseorang tidak muncul secara tiba-tiba. Kebanyakan sebelum memutuskan untuk melakukan bunuh diri, keinginan itu didahului oleh munculnya depresi.

Akhir-akhir ini, kasus bunuh diri cenderung mengalami peningkatan, mulai dari kaum miskin hingga kaya-raya. Bahkan kasus bunuh diri menjadi salah satu dari tiga penyebab utama kematian kalangan yang berumur 15-44 tahun di Indonesia. Penyebabnya bisa karena tekanan lingkungan.

Meskipun demikian, ada beberapa tanda-tanda yang bisa dikenali dari orang yang nekat melakukan aksi bunuh diri. Berikut ini beberapa tanda-tanda orang yang ingin bunuh diri.

1. Ancaman bunuh diri

Beberapa kasus, seseorang akan memberi tahu orang lain secara langsung tentang pikirannya untuk bunuh diri. Atau berusaha melakukan pendekatan yang tidak langsung, seperti mengatakan bahwa dunia akan lebih baik tanpa kehadirannya di dunia atau kalau dia mati.

2. Menjauhkan diri dari pergaulan

Orang yang ingin bunuh diri kemungkinan tidak suka bergaul dengan orang lain atau ingin dibiarkan sendiri. Adanya masalah di tempat kerja atau di sekolah juga merupakan tanda lain menarik diri dari pergaulan.

3. Emosi yang labil

Tidak ada manusia yang tidak pernah mengalami naik turunnya suasana hati. Namun, perubahan suasana hati yang drastis, bisa merupakan tanda orang yang ingin bunuh diri, misalnya suatu hari ia memperlihatkan emosi yang menggebu dan di hari ini ia tampak begitu tertekan, putus asa – bukanlah hal normal.
Terkait : Gejala Penyakit Psikologi Bipolar Disorder

4. Depresi

Tanda peringatan orang yang ingin bunuh diri lainnya adalah depresi yang dalam. Kadang-kadang orang tersebut begitu depresi sehingga dia kesulitan berfungsi di masyarakat atau di tempat kerja.
Terkait : Pasangan Anda Depresi?Hadapi dengan Cara Ini

5. Melakukan aktivitas berbahaya

Aktivitas yang sangat berbahaya misalnya berkendaraan dengan kecepatan tinggi, melakukan seks tidak aman atau pemakaian obat secara tidak terkendali, dapat merupakan tanda-tanda timbulnya keinginan untuk mati.

6. Krisis kepribadian

Mengalami langkah mundur dalam kehidupan, misalnya perceraian, kehilangan pekerjaan atau kematian orang yang dicintai yang sulit diatasi seseorang. Di antara orang yang mengalami depresi, krisis demikian dapat mendorong mereka ke jurang putus asa atau memicu upaya bunuh diri.
Terkait : Lakukan Ini Saat Anda Merasa Terluka

7. Perubahan kepribadian yang ekstrem

Tanda sebelum seseorang melakukan bunuh diri, kemungkinan akan terlihat adanya perubahan dalam kepribadian dan kebiasaan atau rutinitasnya, misalnya pola makan atau pola tidurnya. Sebagai contoh, orang yang biasanya pemalu tiba-tiba menjadi begitu menarik perhatian dalam sebuah pesta, atau orang yang tadinya sangat terbuka tiba-tiba menjadi penyendiri.
Terkait : Mengenal Gejala Gangguan Jiwa Skizofrenia.

8. Memberi hadiah

Kadang-kadang sebelum melakukan upaya bunuh diri, orang yang mengalami depresi akan memberikan miliknya yang berharga kepada orang lain, karena yakin sudah tidak membutuhkannya lagi.

Memang pikiran masing-masing orang yang akan melakukan bunuh diri tidak ada yang sama, tetapi biasanya ada kesamaan perilaku pada orang-orang tersebut. Jadi perhatikan dan waspadai orang-orang terdekat Anda bila menunjukkan tanda-tanda orang yang ingin bunug diri seperti di atas.(sumber : tribunnews.com)
Read More

Sabtu, 11 Oktober 2014

Mengenal Gejala Gangguan Jiwa Skizofrenia

gangguan-jiwa-skizofrenia
Seperti kebanyakan gangguan mental lainnya, penyebab skizofrenia masih belum tersaji secara jelas. Kebanyakan orang membayangkan penderita skizofrenia sebagai seseorang yang rentan dengan kekerasan atau sikap tidak terkontrol. Dalam beberapa kasus, penderita kelainan ini dianggap kerasukan setan, ditakuti, disiksa, diasingkan atau bahkan dikurung selamanya.

Seorang yang mengalami skizofrenia seakan-akan memiliki dunia sendiri. Hal ini tidak dapat dicegah dan pengobatan pun harus diberikan seumur hidup mereka.

Apa itu skizofrenia?

Istilah "skizofrenia" berasal dari bahasa Inggris yaitu "schizophrenia" yang memiliki arti "pikiran terbagi atau terpecah" di mana hal itu mengacu pada terganggunya keseimbangan pada emosi dan pikiran.

Skizofrenia merupakan penyakit gangguan berat pada otak di mana orang akan menafsirkan realitas dengan abnormal, tidak seperti orang kebanyakan. Orang yang mengalami skizofrenia akan mengalami beberapa hal seperti halusinasi, khayalan, dan gangguan pada pemikiran dan perilaku. Kebanyakan dari penderita skizofrenia mengalami rasa takut yang luar biasa. Kebanyakan penyakit ini mulai muncul pada usia dewasa muda. Skizofrenia merupakan penyakit yang kronis karena penderitanya tidak dapat dilepaskan dari pengobatan dan perawatan seumur hidup mereka.

Apa saja gejala skizofrenia yang bisa diketahui?

Tanda dan gejala yang dialami oleh penderita skizofrenia biasanya dikaitkan dengan penyakit mental lainnya. Karena tanda dan gejala dari penyakit ini memang hampir sama dengan tanda dan gejala dari penyakit mental lainnya. Hal ini yang menyebabkan penyakit skizofrenia sulit untuk didiagnosis.

Tanda pertama dari skizofrenia biasanya muncul saat masa remaja atau awal masa dewasa, tetapi tanda tersebut juga telah diketahui muncul pada orang di atas 40 tahun. Laki-laki maupun wanita memiliki risiko menderita skizofrenia. Gejala pada pria cenderung muncul di usia yang lebih muda daripada wanita.

Gejala skizofrenia bervariasi dari satu orang ke orang lain, tetapi secara umum dikategorikan menjadi :

1. Gejala positif
Fungsi otak dari penderita penyakit skizofrenia akan bekerja lebih aktif atau bisa dikatakan berlebihan. Hal ini menyebabkan otak bekerja dengan tidak normal. Akibatnya, penderita akan mengalami beberapa hal seperti berikut ini:
  • Berkhayal, ini merupakan hal yang paling umum dialami oleh para penderita skizofrenia. Mereka memiliki keyakinan yang berbeda dengan orang normal. Mereka akan melihat realitas yang berbeda pula. Selain itu, penderita juga sering salah menafsirkan persepsi.
  • Halusinasi, orang yang mengalami penyakit ini sering berhalusinasi. Mereka seringkali melihat atau mendengar hal-hal yang sebenarnya tidak ada.
  • Gangguan pikiran, penderita skizofrenia akan kesulitan berbicara dan mengatur pikirannya sehingga hal ini mengganggu kemampuan berkomunikasi.
  • Perilaku tidak teratur, orang yang mengalami skizofrenia sering berperilaku aneh, seperti anak kecil yang melakukan hal-hal konyol.
  • Para penderitanya juga sering curiga dan mereka seolah-olah berada di bawah pengawasan yang ketat. Hal itu menyebabkan mereka merasa tertekan.
2. Gejala negatif
Gejala ini mengacu pada berkurangnya atau bahkan tidak adanya karakteristik fungsi otak yang normal. Gejala ini mungkin muncul disertai atau tanpa adanya gejala positif, antara lain:
  • Sulit mengekspresikan emosi
  • Menarik diri dari lingkungan sosial
  • Kehilangan motivasi
  • Tidak minat melakukan kegiatan sehari-hari
  • Mengabaikan kebersihan pribadi
Gejala-gejala tersebut seringkali dianggap sebagai kemalasan yang biasa dialami oleh tiap orang. Namun, hal itu ternyata keliru.

3. Gejala kognitif
Jenis gejala orang yang mengalami skizofrenia akan menimbulkan masalah pada proses berpikir. Tanda dan gejala yang mungkin timbul, antara lain:
  • Masalah dalam membuat informasi yang masuk akal dan dapat dimengerti
  • Sulit berkonsentrasi
  • Masalah pada memori otak
4. Gejala afektif
Penyakit skizofrenia juga akan menimbulkan masalah pada suasana hati. Para penderitanya akan mengalami depresi, cemas, dan seringkali mencoba untuk bunuh diri. Gejala-gejala dari penyakit ini lambat laun dapat melumpuhkan para penderitanya. Sebab, hal ini sangatlah mengganggu kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan rutin sehari-hari.

Apakah saja penyebab penyakit skizofrenia?

Penyebab pasti dari penyakit skizofrenia belum diketahui. Namun, beberapa peneliti percaya bahwa penyakit ini dapat terjadi akibat unsur kimia pada otak bermasalah, termasuk neurotransmiter dopamin dan glutamat. Hal ini berhasil dibuktikan dari sebuah studi neuroimaging yang menunjukkan perbedaan dalam struktur otak dan sistem saraf pusat dari penderita skizofrenia. Selain itu, para peneliti juga percaya bahwa faktor genetika dan lingkungan turut memberi andil dalam perkembangan penyakit ini. Meskipun begitu ada beberapa faktor yang tampaknya dapat meningkatkan risiko penyakit ini timbul dan berkembang, seperti:
  • Kondisi hidup yang penuh stres
  • Sering mengkonsumsi obat psikoaktif selama masa remaja dan dewasa
  • Sering terkena paparan virus, racun, atau kekurangan gizi selama masa kehamilan, khususnya pada trimester pertama dan kedua
Bagaimana cara diagnosa penyakit skizofrenia?

Tidak ada cara yang pasti untuk mencegah penyakit skizofrenia. Dengan pengobatan dini dapat membantu mencegah kekambuhan dan memburuknya gejala yang timbul akibat dari penyakit ini. Bila tidak diobati, penyakit ini dapat menimbulkan masalah pada emosi, perilaku, dan kesehatan yang semakin lama akan semakin memburuk. Beberapa jenis tes dan ujian yang umumnya dilakukan oleh dokter, antara lain:
  • Tes laboratorium, Dokter akan melakukan tes darah, misalnya dengan melakukan penghitungan sel darah secara lengkap (CBC). Hal ini dapat membantu untuk menyingkirkan kondisi lain yang menimbulkan gejala serupa. Selain itu, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk melakukan skrining untuk alkohol dan obat-obatan.
  • Tes pencitraan dengan menggunakan magnetic resonance imaging (MRI) dan computed tomography (CT) scan.
  • Evaluasi psikologis, Dokter juga akan memeriksa kesehatan mental dengan cara mengamati penampilan dan sikapAnda. Dokter akan mengajukan pertanyaan seputar pikiran, suasana hati, khayalan, halusinasi, penyalahgunaan zat, dan potensi percobaan bunuh diri.
Penyakit skizofrenia merupakan suatu kondisi kronis yang mengharuskan penderitanya untuk melakukan pengobatan seumur hidup mereka walaupun gejala yang timbul juga telah mereda. Bagi orang-orang yang memiliki risiko pada peningkatan penyakit skizofrenia dianjurkan untuk melakukan langkah-langkah proaktif, seperti menghindari penggunaan narkoba, mengurangi stres, dan tidur dengan cukup.

Dengan begitu, mereka dapat terbantu untuk meminimalkan gejala dan mencegah penyakit ini semakin memburuk. Dengan perawatan yang tepat, kebanyakan orang dengan skizofrenia dapat mengelola kondisi mereka. (liputan6)
Read More

Sabtu, 13 September 2014

Gejala Penyakit Psikologi Bipolar Disorder

penyakit-psikologi-bipolar-disorder
Apakah anda atau orang terdekat disekitar anda sering mengalami perubahan mood yang sangat ekstrim dan drastis? Kadang menjadi orang yang sangat bersemangat namun tiba-tiba dalam waktu tertentu ia menjadi sangat sedih, depresi, mudah tersinggung, dan putus asa? Patut dicurigai mungkin anda atau orang terdekat anda menderita Bipolar disorder

Bipolar disorder merupakan salah satu jenis penyakit psikologi, ditandai dengan perubahan mood (alam perasaan) yang sangat ekstrim, yaitu berupa depresi dan mania. Istilah bipolar disorder digunakan mengacu dari suasana hati penderitanya yang dapat berganti secara tiba-tiba antara dua kutub (bipolar) yang berlawanan yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi) yang ekstrim.

Bagi penderita bipolar disorder, ada empat periode atau tahapan emosi, yaitu:

1. Mania

Saat periode ini, penderita seolah-olah memiliki rasa bahagia yang sangat berlebihan namun di saat yang sama menjadi mudah tersinggung dan marah. Berikut gejala bipolar disorder tahap mania :

  • Gembira yang berlebihan
  • Mudah tersinggung sehingga mudah marah
  • Merasa dirinya sangat penting, merasa kaya atau memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain
  • Penuh ide dan semangat baru, namun cepat berpindah dari satu ide ke ide lainnya
  • Seperti mendengar suara yang orang lain tak dapat mendengar
  • Nafsu seksual meningkat
  • Menyusun rencana yang tidak masuk akal
  • Sangat aktif dan bergerak sangat cepat
  • Berbicara sangat cepat sehingga orang lain sukar dimengerti apa yang dibicarakan
  • Menghamburkan uang
  • Membuat keputusan aneh dan tiba-tiba, namun cenderung membahayakan dirinya sendiri atau orang lain
  • Merasa sangat mengenal orang lain
  • Mudah melempar kritik terhadap orang lain
  • Sukar menahan diri dalam perilaku sehari-hari
  • Sulit tidur
  • Merasa sangat bersemangat

2. Hipomania

Hypomania adalah bentuk kurang parah periode mania, pada periode ini penderita menjadi lebih tenang. Ini adalah periode yang sulit terdeteksi. Beberapa gejala dari tahap hipomania bipolar disorder adalah sebagai berikut:

  • Bersemangat dan penuh energi, muncul kreativitas
  • Bersikap optimis, selalu tampak gembira, lebih aktif, dan cepat marah
  • Penurunan kebutuhan untuk tidur.

3. Depresi

Depresi merupakan periode yang bertolak belakang dengan kedua periode sebelumnya. Saat mengalami periode ini, para penderita akan mengalami kondisi murung yang sangat. Jika tidak ditangani dengan baik dia akan terjerumus dalam hal-hal negatif, dan yang paling fatalnya adalah bunuh diri. Gejala-gejala dari tahap depresi bipolar disorder adalah sebagai berikut:

  • Suasana hati yang murung dan perasaan sedih yang berkepanjangan
  • Sering menangis atau ingin menangis tanpa alasan yang jelas
  • Kehilangan minat untuk melakukan sesuatu
  • Tidak mampu merasakan kegembiraan
  • Mudah letih, tak bergairah, tak bertenaga
  • Sulit konsentrasi
  • Merasa tak berguna, putus asa, bersalah dan berdosa
  • Rendah diri dan kurang percaya diri
  • Beranggapan masa depan suram dan pesimistis
  • Berpikir untuk bunuh diri
  • Hilang nafsu makan atau makan berlebihan
  • Penurunan berat badan atau penambahan berat badan
  • Sulit tidur, bangun tidur lebih awal, atau tidur berlebihan
  • Mual sehingga berbicara menjadi susah karena menahan rasa mual, mulut kering, susah buang air besar, dan terkadang diare
  • Gairah seksual menurun
  • Menghindari komunikasi atau kontak dengan orang lain

4. Campuran

Ini merupakan adalah periode bipolar disorder yang paling membahayakan karena kondisi dimana tahap mania dan depresi terjadi bersamaan. Pada saat tertentu, penderita mungkin bisa merasakan energi yang berlebihan, tidak bisa tidur, banyak ide yang muncul, agresif, dan panik (mania). Akan tetapi, beberapa jam kemudian, keadaan itu berubah menjadi sebaliknya. Penderita merasa kelelahan, putus asa, dan berpikiran negatif terhadap lingkungan sekitarnya. Hal itu terjadi bergantian dan berulang-ulang dalam waktu yang relatif cepat.

Alkohol, narkoba, dan obat-obatan sering dipakai sebagai pelarian oleh penderita saat berada pada periode ini. Gejala-gejala bipolar disorder dari tahap ini yang diperlihatkan jika penderita akan melakukan bunuh diri antara lain sebagai berikut

  • Selalu berbicara tentang kematian dan keinginan untuk mati kepada orang-orang di sekitarnya
  • Memiliki pandangan pribadi tentang kematian
  • Mengkonsumsi obat-obatan secara berlebihan dan alkohol
  • Terkadang lupa akan hutang atau tagihan

Sebagian besar penderita bipolar disorder berpikiran tentang bunuh diri dan 30% diantaranya berusaha untuk merealisasikan niat tersebut dengan berbagai cara. Penderita yang mengalami gejala-gejala penyakit psikologi bipolar disorder tersebut atau siapa saja yang mengetahuinya sebaiknya segera menelepon dokter atau ahli jiwa, jangan meninggalkan penderita sendirian, dan jauhkan benda-benda atau peralatan yang beresiko dapat membahayakan penderita atau orang-orang disekelilingnya.(Sumber : wikipedia.org ;Ilustrasi : www.canadianpharmacymeds.com)



Read More

Minggu, 13 Juli 2014

4 Kriteria Fungsi Anak Sehat Secara Mental

funfsi-mental-anak
Kesehatan mental anak merupakan komponen kunci dalam perkembangan anak yang sehat dan mempersiapkan generasi yang unggul. Anak-anak harus melalui proses belajar, tumbuh dan belajar untuk menjalani kehidupan yang produktif. Ada empat kriteria fungsi yang biasanya digunakan untuk melihat anak sehat mental atau tidak, yaitu :

Fungsi intelektual
Kemampuan anak menggunakan seluruh kemampuan intelektualnya. Pada kriteria ini si kecil harus tahu di mana ia berada, waktunya kapan, dan nyambung bila diajak ngomong (bila sudah bisa berkomunkasi), serta mampu berpikir sesuai tahap usianya dan mampu menggunakan imajinasi.

Fungsi sosial
Kemampuan menyeimbangkan antara dependensi dengan orang lain dan otonomi. Si kecil yang terlalu tergantung pada orang lain amat tak bagus, tapi yang terlalu mandiri (self oriented) sampai tak butuh bantuan orang lain, juga tak baik. Fungsi ini berkaitan pula dengan rasa aman dan nyaman yang dimiliki ketika berelasi dengan orang lain, termasuk juga kemampuan untuk berbagi pada orang lain dan berempati.

Fungsi emosional
Kemampuan menguasai rasa cemas dan mengatasi frustrasi yang dialami. Antara lain, bisa menghadapi emosi yang membuat dirinya mengalami konflik. Misal, ia dihadapi masalah ingin main bersama teman-teman, tapi ibunya melarang karena ia harus tidur siang. Nah, anak yang sehat mental mampu mengatasi konflik emosi yang dialaminya ini bukan malah langsung mengamuk.

Fungsi personal dan adaptasi
Mencakup kemampuan memiliki konsep diri positif dan bersikap fleksibel. Anak yang kaku, seperti pokoknya apa-apa harus begini, menaruh barang A harus di tempat A, jelas bukan anak sehat.

Source
Read More

Selasa, 08 Juli 2014

Akhirnya UU Kesehatan Jiwa Disahkan DPR

uu-kesehatan-jiwa
Rancangan Undang-undang Kesehatan Jiwa akhirnya disahkan oleh DPR siang tadi (8/7). Dengan disahkan undang undang ini diharapkan bahwa bukan hanya kesehatan fisik saja yang diperhatikan, namun juga kesehatan jiwa masyarakat.

Dengan adanya undang-undang ini, akan ada sistem pelayanan berjenjang dari fasilitas kesehatan primer seperti puskesmas hingga rumah sakit tingkat kabupaten untuk melayani pasien pengobatan gangguan jiwa. Maka puskesmas dan rumah sakit tingkat kabupaten wajib menangani pasien gangguan jiwa tanpa terkecuali, sesuai dengan kapasitas masing-masing instansi.

Sampai saat ini, untuk diketahui terdapat 16 juta jiwa mengalami gangguan jiwa ringan dan 400 ribu orang mengalami gangguan jiwa berat. Sebelumnya hal ini tidak diatur dalam UU sehingga kebanyakan pasien justru diabaikan.

UU Kesehatan jiwa ini diharapkan bisa memaksimalkan upaya promotif dan preventif untuk mengasuh bangsa. Mengingat kebanyakan orang justru memasung para penderita gangguan jiwa serta mengucilkannya dari lingkungan sekitar dengan sangat tidak manusiawi. (detik.com)
Read More
© 2014 HEALTHY LIFE. Designed by Bloggertheme9 | Distributed By Gooyaabi Templates
Powered by Blogger.